Universitas Gadjah Mada (UGM) melalui Magister Teknologi untuk Pembangunan Berkelanjutan, bersama komunitas Omah Oerip, Resan Gunungkidul, dan masyarakat Padukuhan Wintaos, menyelenggarakan kegiatan Sosialisasi dan Diskusi Wanadesa dan Karang Kitri: Penguatan Ketahanan Pangan Keluarga di Tompak Watu, Gunungkidul, Daerah Istimewa Yogyakarta. Kegiatan ini menjadi ruang berbagi pengetahuan dan pengalaman mengenai pemanfaatan pekarangan serta potensi sumber daya alam untuk mendukung ketahanan pangan keluarga. Diskusi menghadirkan tiga narasumber, yaitu Pak Ir. Agus Prasetya, M.Eng.Sc., Ph.D. dari UGM, Pak Edi Padmo dari komunitas Resan Gunungkidul, dan Pak Gayut dari komunitas Omah Oerip.
Dalam pemaparannya, Pak Agus memperkenalkan kembali konsep Karang Kitri melalui istilah yang lebih relevan dengan kehidupan masyarakat saat ini, yaitu ketahanan pangan keluarga. Konsep ini mengajak masyarakat untuk melihat pekarangan bukan sekadar ruang di sekitar rumah, melainkan sebagai potensi yang dapat dimanfaatkan untuk memenuhi kebutuhan pangan keluarga.
Pak Edi Padmo kemudian mengangkat pentingnya ketahanan pangan bagi masyarakat Gunungkidul dengan menyoroti warisan pengetahuan leluhur dalam memanfaatkan sumber daya alam. Ia menyampaikan bahwa potensi alam di sekitar masyarakat kerap belum dimanfaatkan secara optimal karena orientasi pemenuhan kebutuhan hidup semakin bertumpu pada aspek ekonomi. Melalui pengenalan konsep Wanadesa, ia juga menekankan pentingnya memadukan ilmu titen atau pengetahuan lokal yang diwariskan turun-temurun dengan ilmu pengetahuan dan praktik yang berkembang saat ini.
Sementara itu, Pak Gayut membagikan pengalaman membangun ketahanan pangan melalui pemanfaatan pekarangan. Ia menyoroti pentingnya mempertahankan dan mengembangkan pengetahuan leluhur mengenai kegiatan bercocok tanam, sekaligus mengeksplorasi potensi sumber daya alam menjadi produk bernilai ekonomi. Menurutnya, keterlibatan generasi penerus juga perlu diperhatikan melalui pendekatan yang menarik dan relevan, khususnya dalam mengenalkan keterampilan menanam dan mengolah hasil alam.

Dalam sesi diskusi, ibu-ibu Padukuhan Wintaos menyampaikan keresahan mengenai semakin berkurangnya minat generasi muda untuk bertani maupun menanam tanaman pangan di pekarangan rumah. Selain persoalan regenerasi, keterbatasan lahan juga menjadi tantangan karena semakin banyak pekarangan yang dialihfungsikan untuk perluasan bangunan tempat tinggal bagi anak dan cucu. Berbagai persoalan tersebut menunjukkan bahwa penguatan ketahanan pangan keluarga tidak hanya berkaitan dengan praktik bercocok tanam, tetapi juga keberlanjutan pengetahuan lokal, ketersediaan lahan, dan keterlibatan antargenerasi. Melalui kegiatan ini, kolaborasi antara UGM, komunitas lokal, dan ibu-ibu Padukuhan Wintaos diharapkan dapat menjadi langkah untuk menghidupkan kembali praktik pemanfaatan pekarangan, merawat pengetahuan leluhur, serta memperkuat ketahanan pangan keluarga secara berkelanjutan.
Sebagai penutup kegiatan, peserta mengikuti praktik pembuatan kue berbahan dasar tepung sorgum yang dipandu oleh Ibu Nanik selaku Dukuh Wintaos. Kegiatan ini menjadi salah satu bentuk pengenalan potensi pangan lokal melalui pengolahan hasil alam menjadi produk pangan yang dapat dikonsumsi keluarga. Melalui rangkaian sosialisasi, diskusi, dan praktik tersebut, kolaborasi antara UGM, komunitas lokal, dan ibu-ibu Padukuhan Wintaos diharapkan dapat mendorong pemanfaatan sumber daya lokal sekaligus memperkuat ketahanan pangan keluarga secara berkelanjutan.

Penulis : Aliyya Fauziah