Minat Studi Magister Teknologi untuk Pembangunan Berkelanjutan (MTPB), Sekolah Pascasarjana Universitas Gadjah Mada, menyelenggarakan pertemuan perdana forum mahasiswa MTPB pada 11 Februari 2026. Pertemuan ini dipimpin langsung oleh Ketua Minat Studi MTPB, Muhammad Sulaiman,
Berita
Perubahan iklim bukan lagi sekadar wacana ilmiah, melainkan realitas yang mengetuk pintu kehidupan sehari-hari masyarakat Indonesia. Pola curah hujan yang tidak menentu dan penurunan muka air tanah menjadi ancaman nyata bagi keberlangsungan hidup. Menjawab tantangan ini, tim peneliti dari Sekolah
Ketika air saluran irigasi berubah menjadi hijau pekat dan berbau, itu bukan tanda kesuburan, melainkan ancaman tersembunyi bernama eutrofikasi. Fenomena pengayaan nutrisi berlebih ini memicu ledakan alga, menyedot oksigen dari air, dan pada akhirnya mengancam kualitas hasil panen petani.
Menjawab
Dr. Sc.Tech. Adhy Kurniawan dkk
Bendungan adalah bangunan yang berupa urukan tanah, urukan batu, dan beton, yang dibangun selain untuk menahan dan menampung air, dapat pula dibangun untuk menahan dan menampung limbah tambang, atau menampung lumpur sehingga terbentuk waduk. Waduk adalah
1. Pendahuluan
Kegiatan Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM) merupakan salah satu bentuk kontribusi nyata dari perguruan tinggi dalam mendukung kesejahteraan masyarakat. PKM yang dilaksanakan di Padukuhan Nayan, Yogyakarta, pada tahun 2024, berfokus pada inisiatif lingkungan dan pemberdayaan masyarakat lokal. Program ini didasarkan pada identifikasi potensi dan permasalahan lingkungan, sosial, serta ekonomi yang ada di wilayah tersebut. Beberapa program utama meliputi Program Kali Bersih (Prokasih), sosialisasi terkait Program Kampung Iklim (Proklim), serta pemberdayaan masyarakat melalui pengelolaan sampah berbasis bank sampah dan kelompok wanita tani (KWT). Artikel ini membahas tahapan, hasil capaian, serta korelasi antara program PKM di Nayan dengan Sustainable Development Goals (SDGs) yang merupakan tujuan global untuk mencapai keberlanjutan.
2. Metode Pelaksanaan Kegiatan
Kegiatan PKM dimulai pada awal Mei 2024 dengan pendekatan partisipatif. Pada kunjungan pertama, tim PKM melakukan pendekatan kepada tokoh masyarakat seperti Ibu Dukuh dan para aktivis setempat. Tujuan dari pendekatan ini adalah untuk memahami secara mendalam kondisi aktual di lapangan, mengidentifikasi potensi dan permasalahan yang ada, serta membangun komunikasi dan kerjasama yang efektif dengan masyarakat lokal.
Setelah menggali informasi awal, pada awal Juni 2024, tim PKM bergabung dalam rapat Prokasih (Program Kali Bersih). Kegiatan ini melibatkan berbagai elemen masyarakat, termasuk warga sekitar, pemerintah setempat, aktivis lingkungan, serta mahasiswa dari MTPB dan anggota River and Ecology Club (REC). Tim PKM juga mulai mempersiapkan materi untuk kegiatan sosialisasi terkait Program Kampung Iklim (Proklim) yang akan diselenggarakan setelah koordinasi waktu yang tepat dengan masyarakat setempat diperoleh.
3. Hasil Kegiatan
Program Kali Bersih (Prokasih)
Kegiatan Prokasih difokuskan pada pembersihan Sungai Grojokan, yang melintasi Padukuhan Nayan. Program ini merupakan upaya kolaboratif antara masyarakat, pemerintah, dan mahasiswa untuk membersihkan sungai dari sampah dan limbah. Dengan semangat gotong royong, kegiatan ini berhasil meningkatkan kualitas air sungai dan kesadaran masyarakat akan pentingnya menjaga kebersihan lingkungan. Inisiatif ini juga berkontribusi langsung pada pencapaian SDG ke-6: Air Bersih dan Sanitasi Layak, yang bertujuan untuk menjamin ketersediaan air bersih dan pengelolaan air yang berkelanjutan bagi semua. Dukungan penuh dari berbagai pihak terhadap Prokasih menunjukkan komitmen dalam menciptakan lingkungan yang sehat dan lestari. Program ini diharapkan dapat menjadi langkah awal dalam membangun kesadaran masyarakat untuk menjaga ekosistem sungai dan mengembangkan strategi jangka panjang dalam pengelolaan sumber daya air yang berkelanjutan.
Pengelolaan Sampah di Padukuhan Nayan
Selain kegiatan pembersihan sungai, Padukuhan Nayan telah memiliki sistem pengelolaan sampah yang cukup baik melalui bank sampah dan Tempat Pembuangan Sampah (TPS). merupakan inisiatif penting dalam mengelola bank sampah, dimana warga secara aktif memisahkan sampah organik dan anorganik. Selain itu, RW 26 menyediakan TPS sebagai tempat pengumpulan sampah sebelum dibawa ke Tempat Pembuangan Akhir (TPA). Pemberdayaan kelompok ibu-ibu melalui Kelompok Wanita Tani (KWT) di RW 24 dan RW 25.
Sistem pengelolaan sampah ini sejalan dengan SDG ke-12: Konsumsi dan Produksi Berkelanjutan, yang mendorong pengelolaan limbah dan daur ulang yang efisien untuk mengurangi dampak negatif terhadap lingkungan. Pengembangan lebih lanjut diharapkan dapat mencakup pengolahan sampah menjadi produk daur ulang yang bernilai tambah, memberikan manfaat ekonomi bagi warga, dan menciptakan peluang usaha berbasis lingkungan.
Sosialisasi Kampung Iklim (Proklim)
Tim PKM melaksanakan kegiatan sosialisasi terkait Proklim, yang menjadi bagian dari Lomba Wajah Padukuhan Nayan. Materi yang disampaikan meliputi pengenalan Proklim, pentingnya partisipasi masyarakat dalam mitigasi dan adaptasi perubahan iklim, serta langkah-langkah konkret yang dapat dilakukan, seperti konservasi air, pengelolaan sampah, dan perlindungan sempadan sungai. Kegiatan sosialisasi ini bertujuan untuk meningkatkan kesadaran masyarakat tentang perubahan iklim dan mendorong mereka untuk lebih aktif dalam menjaga lingkungan.
Kolaborasi dengan Dinas Lingkungan Hidup (DLH) dan Sekolah Ekoliterasi sebagai narasumber dalam kegiatan ini juga dirancangkan untuk memperkaya diskusi dan pemahaman warga tentang pentingnya peran mereka dalam upaya mitigasi perubahan iklim. Proklim ini mendukung SDG ke-13: Penanganan Perubahan Iklim, di mana partisipasi masyarakat lokal menjadi kunci untuk menghadapi dampak perubahan iklim di tingkat komunitas. Adapun, pelaksanaan dari kegiatan sosialisasi ini dirancangkan untuk selesai pada tahun ini.
Penyusunan Profil Padukuhan Nayan
Penyusunan profil Padukuhan Nayan diawali dengan pemetaan wilayah dan potensi lokal yang ada. Pemetaan ini bertujuan untuk mengidentifikasi dan memaksimalkan potensi sumber daya serta infrastruktur guna mendukung kesejahteraan masyarakat dan keberlanjutan lingkungan. Potensi yang terpetakan meliputi mata air, jembatan, kolam ikan, tempat pembuangan sampah (TPS), bank sampah, sekolah, tempat ibadah, dan kolam pemancingan. Mata air menjadi sumber penting untuk ketahanan air, sementara kolam ikan dan pemancingan memiliki peluang besar untuk dikembangkan sebagai sektor ekonomi berbasis perikanan dan wisata.
Langkah pemetaan ini juga mendukung partisipasi Padukuhan Nayan dalam Program Kampung Iklim (ProKlim). Dengan pemetaan yang terstruktur, Nayan dapat mengelola potensi tersebut secara lebih efektif sebagai bagian dari strategi mitigasi dan adaptasi perubahan iklim. Fasilitas seperti TPS dan bank sampah memainkan peran penting dalam pengelolaan limbah yang berkelanjutan, yang sejalan dengan tujuan ProKlim untuk menciptakan lingkungan yang lebih ramah iklim dan tangguh.
4. Pembahasan Terkait SDGs
Kegiatan PKM di Padukuhan Nayan tidak hanya berfokus pada pengelolaan lingkungan, tetapi juga berupaya mencapai beberapa target SDGs yang berkaitan dengan pembangunan sosial-ekonomi masyarakat.
- SDG 1: Pengentasan Kemiskinan
- Pemberdayaan masyarakat melalui bank sampah dan KWT memberikan kontribusi dalam meningkatkan pendapatan

Kedatangan rombongan kunjungan ini disambut baik oleh pihak BATAN. Profesor Yohannes Sardjono, selaku peneliti di Pusat Sains dan Teknologi Akselerator (PSTA), memberikan sambutan dan paparan sekilas mengenai nuklir. Dalam paparannya, beliau mengatakan bahwa nuklir memiliki berbagai kegunaan di berbagai bidang, seperti pertanian, kesehatan, industri, dan kebencanaan. “Banyak buah-buahan yang terbuang karena tidak dilakukan pengelolaan pascapanen yang baik”, ungkapnya
Beliau meminta kepada perguruan tinggi untuk aktif dalam membangun negeri, khususnya di wilayah Indonesia Timur. Selain itu, Beliau memberikan peluang kepada mahasiswa yang hadir untuk melakukan penelitian di BATAN. “Mamuju adalah tempat dengan radioaktivitas lingkungan tertinggi di Indonesia, jadi kalau kamu mau melakukan penlitian di sana, kami bantu”, papar Beliau kepada salah satu mahasiswa yang berasal dari Mamuju, Sulawesi Barat.
Setelah mendapatkan penjelasan di ruangan, mahasiswa mengunjungi Reaktor Kartini, Laboratorium Instrumentasi, serta diakhiri dengan mengunjungi Gedung Fisika Partikel dan diberikan penjelasan mengenai plasma. (Arf)
MTPB mengadakan studi lapangan sekaligus sosialisasi dan promosi Minat Studi ke PT Geo Dipa Energi, Dieng, Senin (23/4) lalu. Studi lapangan ini diikuti oleh 11 orang mahasiswa, satu orang staf akademik MTPB/SPs, dan dua orang dosen/pengelola MTPB.
Rombongan diterima oleh Bapak Yanto dari Health, Safety, Environment (HSE) perusahaan dan dimulai dengan safety induction dari PT Geodipa Energi, dilanjutkan pemaparan tentang Minat Studi MTPB oleh Ketua Minat MTPB (Ir. Agus Prasetya, MEngSc., PhD). Pemaparan selanjutnya tentang pemanfaatan energi panas bumi, teknologi-teknologi yang digunakan serta penjelasan umum tentang PT Geo Dipa disampaikan oleh Bpk. Riswan dari PT Geo Dipa Energi, disambung dengan pemaparan beberapa hasil riset yang terkait dengan geothermal oleh Dr. Eng. Himawan Bayu. Sesi pemaparan diakhiri dengan diskusi kemungkinan kerjasama antara PT Geo Dipa dengan MTPB terkait dengan penelitian evaluasi pemanfaatan energi panas bumi, penyelesaian masalah kerak silika pada pipa dan saluran, pemanfaatan silika untuk geopolymer dan lain-lain.
Kegiatan dilanjutkan dengan studi lapangan panas bumi di sumber geothermal Sileri, yang mahasiswa mendapatkan penjelasan dan menyaksikan langsung proses pengambilan uap-air geothermal, pembersihan dan pemisahan dan re-injeksi air panas bumi ke dalam sumur-sumur injeksi, serta problem-problem yang dihadapi. Kegiatan ini dilakukan, salah satunya bertujuan untuk menambah wawasan mahasiswa mengenai potensi geothermal sebagai salah satu sumber energi terbarukan (renewable energy) yang potensial di Indonesia. Potensi panas bumi di Indonesia merupakan yang terbesar ke-2 di dunia. (Arf/AP)
Seorang mahasiswa MTPB, Zul Kariman, berinisiatif merancang pembangkit listrik yang ramah lingkungan. Pembangkit listrik ini tidak hanya menggunakan satu sumber energi saja. Pembangkit listrik tersebut dirancang dengan memanfaatkan cahaya matahari, angin, baterai, dan diesel. Penggabungan berbagai macam sumber energi ini mampu memberikan pasokan listrik yang lebih besar dengan biaya yang lebih murah. Selain itu, waktu pemasokan dapat dioptimalkan menjadi 24 jam. Sehingga, dapat menguntungkan masyarakat. Judul penelitian yang ia ambil adalah Perancangan Sistem Suplai Energi Hibrid Stand-Alone Berkelanjutan untuk Wilayah Pulau-Pulau Kecil dan Terpencil di Indonesia (Studi Kasus Desa Air Sena Kabupaten Kepulauan Anambas).
Komentar Terbaru